POLITIKSUMBAR- Jika diibaratkan burung, seorang pemimpin—siapa pun dia—berkicau adalah sebuah kepastian. Baik melalui lisan maupun tulisan, begitulah ia bekerja. Berbeda dengan bawahan. Pemimpin, pada tingkatan dan lini apa pun, akan selalu berbicara: ketika memberi briefing kepada staf, berdiskusi, melakukan bargaining, mengambil keputusan bagi organisasi, kelompok, bahkan negara; atau saat berpidato di depan massa. Berbicara bagi pemimpin adalah keniscayaan.
Namun bicara bukan sekadar menjelaskan maksud atau mengurai arti. Bicara adalah penyampai makna. Bukan berarti pemimpin tak boleh bercanda—ngono-ngono ning ojo ngono. Tak perlu banyak bicara, apalagi memberi pernyataan pada hal yang berada di luar kewenangan atau jauh dari koridor tugasnya. Itu percuma. Tak berguna.
Ketika ia tidak menjawab suatu hal, bukan berarti ia tak tahu jawabannya atau tak memahami persoalan. Ada pertimbangan mengapa ia memilih diam. Tak semua masalah perlu dijawab, tak semua peristiwa harus diberi ulasan. Diamnya pemimpin adalah sikap, pilihan yang disadari.
Seperti cericit burung, apa yang ia ucapkan terdengar merdu, terasa lembut, dan menyejukkan laksana angin pegunungan. Ucapan pemimpin menenteramkan banyak kalangan, menghadirkan rasa ayem bagi semua lapisan. Itulah gerak-laku yang ikhlas: selaras antara kata dan perbuatan.
Ada satu hal yang wajib dihindari: “pagi kedelai sore tempe.” Pemimpin tak boleh mencla-mencle. Harus satu irama, bukan beraneka nada. Namun jika ada yang bias ke sana-sini, apalah daya—begitulah warna dunia. Setiap jiwa membawa ukurannya masing-masing.
Ketika amarahnya tiba, ia bagai gelombang dahsyat di lautan; seperti halilintar, angin beliung yang menggetarkan rasa bersalah dan menghentak kegundahan hati. Mengerikan—walau itu hanya gambaran.
Ibarat rajawali, ia terbang tinggi lalu menukik tajam, mencengkeram dengan kukunya, memekik di tengah kegamangan jiwa: haq… haq… haq! Mengejutkan. Kemarahannya bukan hanya menebar bara, tetapi juga mengurai kusut benang keraguan. Ia mencari yang haq—yang benar—bukan ingin menang sendiri, bukan merasa paling benar.
Pemimpin berjuang bukan untuk satu-dua orang, bukan untuk kelompok atau golongan tertentu. Pikirannya tertuju pada semua kalangan. Peluhnya menetes dari kesunyian yang suwung. Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Bekerja tanpa ingin terlihat, tetapi hasilnya dinikmati banyak orang. Menjauhi riya, menjaga jarak dari puja-puji dunia.
Tuturnya membawa manfaat, bukan kegelisahan. Tidak memecah-belah umat, apalagi demi kepentingan sesaat. Ia mengurai masalah bukan dengan hiasan kata, bukan dengan seuntai kalimat kosong, tetapi dengan menyentuh inti persoalan. Ia bicara pada tataran hakikat—lalu menemukan dan menegaskan solusi. Tak perlu mengobral kata. Cukup menembus inti, memecah pokok masalah. Ia berbuat dan terus berbuat demi keselarasan, keseimbangan, dan kesejahteraan umat.
